Rabu, 18 Juni 2014
Aku hanya menerka apa yang akan
terjadi di sini, di antara hujan yang mengguyur kota sore ini. Aku berharap ada
tontonan menarik antara kau, dia, dan kekasihmu. Dan aku akan berusaha tidak
terlibat di dalamnya.
Tapi, entah apa yang ada dikepalaku
dan di kepalanya. Melihat kau dan kekasihmu berdiri berdampingan penuh cita di
antara hujan sore ini.
Aku menangkap tatapannya begitu
menusuk padamu. Seakan dia ingin mengungkapkan sesuatu, namun tertahan di
sela-sela kerongkongannya. Dan kau hanya memasang tampang tak bersalahmu di
depan dia dan juga di depanku. Seakan kami tak pernah hadir dalam hidupmu.
“dia cuek banget” gumamku dalam hati
Mungkin di kepala dia ada kalimat
yang sama denganku. Kesal, geram karena di cuekin ma orang yang pernah singgah
dalam kehiduan kami.
Aku melihat betapa senyum kekasihmu
begitu murah dan ramah padaku dan mungkin juga dia. Kekasihmu tidak tahu bahwa
dua orang yang sedang berdiri di dekat kalian adalah dua orang perempuan yang
pernah berdiri berdampingan denganmu dengan suka cita yang hampir sama.
Aku menangkap wajah bosan terpampang
padanya. Pun juga aku, bosan melihat kalian ketawa-ketiwi menanti hujan reda.
Entah ini suatu kebetulan atau telah direncanakan sebelumnya. Tapi siapa yang merencanakan
pertemuan yang membosankan ini. Menurutku. Qita terjebak di antara hujan yang
menggila. Kita berdiri tepat di halte depan kampus . berteduh dari rintikan
hujan yang yang tak tau kapan akan reda.
Aku coba mengalihkan pandanganku ke
arahmu. Mencoba agar kau menyapaku. Atau melempar sesimpul senyum untuk
meneduhkan kebosananku. Tapi, tampaknya tak ada tanda senyum itu di wajahmu.
Senyum yang pernah membuat hatiku tertawan olehmu. Kau seperti seseorang yang
tak pernah kenal denganku.
“sombong sekali kamu” batinku geram
Aku mengalihkan pandanganku ke arah
lain. Ku dapati wajah perempuan yang berdri tepat dengan tiag halte sepertinya
geram padamu. Tatapannya tajam menusuk. Namun, sepertinya kau tak merasa sama
sekali.
Dan sepertinya, aku kenal dengan perempuan itu.
“Bukankah dia Winda? Tanyaku dalam hati.
Tepat saja, dia memag Winda. Winda
yang masih berstatus kekasihmu saat kau berusaha mengisi kekosongan
hatiku. Apa kamu tak bertanya mengapa aku mengenal Winda?. Walaupun kamu tak
ingin tau aku akan memberi tahumu. Secara aku kan penulis yang baik hati, tidak
sombong serta rajin menabung (muji diri sendiri,,heheheh)
Aku tau Winda, tapi aku tidak
mengenalnya. Aku tau dia dari akun facebookmu yang lain. Kalian masih memasang
status bertungan saat kau mendekatiku. Aku pun menyelidiki dari tingakh lakumu
saat menerima telepon. Tingkahmu yang tertutup saat ku Tanya siapa yang
menelepon. Jawabanmu yang kaku saat ku Tanya siapa yang menelepon. Dan aku
dapati sesuatu yang tidak mengenakkan. Ternyata kalian memang masih pacaran
waktu itu. Itu adalah sesuatu yang sungguh sangat tidak menyenangkan. Dan tentu
saja itu membuatku mundur (eh ngapain mundur, maju aja belom..hehe).
“hmm…diakan masih jadian ma Winda.
Kok udah ngedeketin aku. Gimana kalau mereka udah putus mungkin bukan hanya aku
yang dia deketin.” Ungkapku dalam hati saat aku tau kalau kamu itu masih punya
pacar. Mungkin kau akan mendekati satu perempuan ke perempuan yang lain.
Kelihatannya tak ada tanda hujan akan reda. Langit di
sudut jalan sana makin mendung dan siap menumpahkan airnya di atas aspal ini.
Matahari pun enggan menyapa. Mendung masih saja selimuti langit sore ini.
“Aku sudah bosan di sini.” Geramku
dalam hati. Aku tak sabar menanti angkot datang dan membawaku pergi dari
pemandangan kalian. Sebenarnya aku suka ketika hujan turun. Aku bisa mencium
aroma tanah yang basah. Tapi, saat ini aku tak bisa menikmatinya. Mungkin,
karena keberadaan kau , ben. Dan juga kekasih barumu yang belum ku ketahui
namanya.
Sepanjang jalan di penuhi air
langit. Langit tak benrhenti menumpahkan semua beban air yang telah lama di
tampungnya. Dan diantara dentingan angin yang berhembus. Aku ingin menyapamu.
Tapi segera ku urungkan, saat kekasihmu menaruh pandangannya ke arah kami.
Kebetulan aku dan Winda berdiri berdampingan dekat dengan tiang penyangga helte
. Awalnya aku kira kekasihu menantapku. Setelah ku selidiki ternyata kekasihmu
sedang melirik ke arah Winda.
Ya.. kali ini aku harap ada tontonan
menarik. kekasihmu melabrak Winda yang sedari tadi menaruh pandang ke ke
arahmu. Tapi, dia hanya melirik Winda sesaat dan berbalik ke arah jalan raya
yang sesak oleh air. Ternyata tidak terjadi apa-apa. Mungkin kekasihmu
orang baik jadi tidak menaruh curiga apapun .
Kita makin terjebak di antara hujan
dan terkurung dalam kebisuan kita. kau, aku, dan juga Winda. Hanya kau dan
kekasihmu saja yang terlihat bercakap. Padahal aku ingin ada perbincangan
ringan antara kita, sambil menanti hujan reda dan menanti angkot menjemput.
Tapi tak ada satu katapun yang terucap dari mulutmu untuk menyapaku atau
sekedar menyapa Winda.
“kenapa angkot tak juga datang,
bosan banget di sini.” Gumamku dalam hati
Aku lagi-lagi menerka. Mungkin
pikiranku dan apa yang di pikirkan Winda itu sama. Ingin segera beranjak dari
tempat ini Karena bosan melihat pemandangan kau dan juga kekasihmu.
Menit pun berlalu. Penantianku
berakhir. Angkot berhenti tepat di depan halte dan aku segera melesat naik di
susul dengan Winda. Aku melihat kau menatapnya sesaat setelah itu pandanganmu
kembali tertuju pada sosok wanita yang berada di sampingmu.
‘’kau membuatku kesal saja. Kau
bahkan tak mencoba melirik ke arahku walau sesaat” batinku geram
Sekarang hanya aku dan Winda di
antara hujan sore ini. Duduk berdampingan di atas angkot yang sedari tadi kami
tunggu tanpa kau dan kekasihmu. Ya, hujan kian menggema, mengguyur hingga senja
pun enggan menampakkan dirinya. Ia seperti terlelap dalam buaian mendung yang
menenangkan.
Sesaat pandanganku jatuh ke
arah Winda. Ku tangkap wajah kekesalan di sana. Ada kekesalan yang tertahan di
ubun-ubun. Ketika Winda balik melirikku, ku buang pandanganku, menatap hujan
dari luar jendela yang berembun tipis. Tapi Hujan tak lagi deras, hanya
rintikan-rintikan hujan yang tersisa mengiringinku pulang.
Tiba-tiba ingatanku berlari kemasa
pedekate kita dulu. Andai kau tau perasaanku saat itu. Ketika kau
mengutarakan semua perasaanmu padaku. Aku sangat senang. Kau begitu perhatian
dan sangat peduli padaku. Tapi, ketika tau kau masih bersama Winda, aku merasa
tak pantas menjadi orang ketiga di antara kau dan Winda. Aku berusaha menahan
perasaanku. Aku tak ingin menghancurkan benang kasih yang telah terjalin.
Aku tak ingin ada yang tersakiti.
Namun kini, apa yang ku dapati. Benang kasih yang enggan aku hancurkan dulu
kini telah kusut dan putus terberai. Kau telah putus dengan Winda dan sekarang
kau menggandeng tangan perempuan lain. Aku kecewa kepadamu. Aku juga marah
terhadapmu. Dan aku tak pernah menyesal dengan keputusanku untuk membiarkan kau
dan Winda tetap bersama. Aku berusaha mengokohkan hubunganmu dengan Winda. Tapi
kau sendiri yang menghancurkannya. Aku tak pernah tau sebab kalian putus. Kau
yang mulai bosan atau dia tau jika kau itu adalah penjelajah hati. Ingin
menjelajahi hati yang satu ke hati yang lain.
Ya.. biarlah itu menjadi sebuah
cerita. Cerita yang tak perlu diungkap lagi. Biarlah cerita ini hilang bersama
air hujan yang telah mengering di atas jalan aspal ini.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar